Pentingnya Lembaga Keuangan Mikro untuk Usaha Kecil

Posted on

Kehadiran lembaga keuangan mikro untuk usaha kecil tampaknya merupakan tuntutan yang mendesak sekali. Lembaga pembiayaan model Grameen Bank pernah menjadi buah bibir dan memberikan suntikan semangat setelah perintisnya, Prof Muhammad Yunus dari Bangladesh memperoleh hadiah Nobel Perdamaian untuk bidang ekonomi. Grameen Bank merupakan lembaga pembiayaan sejenis bank yang meniadakan ketentuan tentang agunan.

Model Grameen Bank ini merupakan terobosan yang sungguh luar biasa yang bisa dilakukan dalam mengatasi problem kemiskinan dan pengangguran di negara itu ditengah kuatnya arus kapitalisme. Apa yang dialami Bangladesh dengan problem kemiskinan, pengangguran, dan berbagai keterbelakangan sosial sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan kondisi yang dialami dan dihadapi masyarakat kita di Indonesia.

Berbagai problem sosial, seperti jumlah pengangguran yang semakin membengkak bertumpuk dengan persoalan kemiskinan yang tampaknya juga tak ada tanda-tanda berkurang. Akses mereka terhadap berbagai fasilitas untuk meningkatkan kualitas hidup pun sangat rendah, baik untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, pendidikan, maupun kesejahteraan lainnya.

lembaga keuangan mikro

Saat ini setidaknya terdapat sekitar 41,7 juta unit usaha di Indonesia, dari perusahaan besar hingga usaha kecil dan tidak berbadan hukum. Namun dari jumlah ini ternyata perbandingan usaha besar dan kecil sangat timpang.
Menurut BPS tahun 2003, struktur konfigurasi ekonomi Indonesia didominasi jenis usaha ekonomi rakyat atau yang sering disebut usaha kecil dan menengah (UKM) yang mencapai 99 persen. Uniknya, dari jumlah UKM ini, sebanyak 98 persennya atau sekitar 39 juta lebih adalah usaha skala mikro yang sebagian besar tidak berbadan hukum.

Meskipun jumlah UKM sangat besar namun perannya dalam memberikan nilai tambah masih relatif kecil. Dalam perkembangan industri manufaktur, misalnya, meskipun jumlah unit usaha kecil mencapai 99 persen lebih namun sumbangannya dalam memberikan nilai tambah masih kurang dari 20 persen. Begitu juga kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2001 tercatat baru 58,2 persen.

Dalam aplikasinya, Grameen Bank diperuntukkan bagi kaum miskin yang selama ini mengalami kesulitan mendapatkan akses permodalan melalui lembaga pembiayaan yang sudah ada. Ketidakmampuan masyarakat miskin dalam menyediakan agunan yang menjadi syarat pokok lembaga perbankan menyebabkan mereka semakin terpinggirkan.

Perbankan memang cenderung mengikuti mekanisme ekonomi yang kapitalistik dan hanya bisa diakses orang kelompok masyarakat kaya. Karena itu tak ada salahnya bila kita belajar dari Grameen dalam membentuk lembaga keuangan mikro. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *